“Tak kenal maka tak sayang.” Pepatah kuno yang selalu nongol dari zaman kita bocah sampai dewasa. Entah kenapa, kata-kata ini mendadak bener-bener ngena di gwaa, setelah gwaa ketemu dengan realita Lembaga Swadaya Masyarakat alias LSM.

Dulu gwaa skeptis, cuy. LSM, di kepala gwaa, ya gitu-gitu aja. Mainnya minta duit, sok advokasi, padahal di belakang bikin proposal cari sponsor buat operasional.

Sampai suatu hari, asumsi itu terbalik 180 derajat waktu gwaa ngobrol langsung sama Bang Indra Musta'in, sosok serius di balik LSM Aliansi Komando Rakyat (AKAR) Lampung.

Ketemunya kebetulan pas gwaa santay bersilaturahmi. Maklum, setelah resign dari dunia kewartawanan yang biasanya sibuk, gwaa jadi punya banyak waktu buat "silaturahmi", ngeluyur dari satu tempat ke tempat lain. Kantor AKAR ini pun tak luput gwaa sambangin.

Pas nyampe sana, suasana awalnya rame, tapi lama-lama anggota satu per satu cabut, entah buat aksi atau sekadar keluar nyari kopi. Yang tersisa di ruangan cuma tiga orang termasuk gwaa sama Bang Indra. Ini kesempatan, pikir gwaa. Gwaa udah lama pengen tahu, gimana sih orang bisa bertahan dan berjuang di LSM yang kepala gwaa identiknya ya… begitulah.

For you info, meski gwaa sering dengar namanya, tahu sepak terjangnya, tapi jarang ada waktu ngobrol langsung. Sedikit segan sih, karena dia senior gwaa di PMII, tapi ya masa disia-siain?

“Bang, gimana bisa terjun di LSM?” Gwaa mulai basa-basi.

Dia langsung jawab, “Gwaa anggap setiap aksi ini ibadah, Dek.”

Dari situ, tiba-tiba aura Bung Karno berpidato seakan masuk ke tubuh Bang Indra. Nada suaranya naik, muka semangat banget, bahkan sesekali gebrak meja.

“Awalnya itu setelah gwaa selesai jadi ketua rayon PMII di Tarbiyah,” katanya.

Gwaa sempat melamun: “Wah, keren nih, kayaknya bisa jadi bahan wawancara eksklusif.”

Seketika hati kecil langsung negur, “hussttt, lu kan udah bukan wartawan, nggak perlu sok wawancara eksklusif. Santai aja, ini ngobrol buat konsumsi pribadi."

Bang Indra mulai cerita panjang lebar soal masa-masa awal kariernya di LSM. Setelah lepas menjadi ketua Rayon di Tarbiyah, katanya, dia jengah dengan tidak adanya aktivitas organisasi yang biasanya numpuk seabrek ketika dia masih mimpin Rayon.

Oleh sebab itu, ia dulu sempat "bergaul" ke beberapa organisasi mahasiswa dari FMN, HMI, GMNI, hingga PMKRI.

Dari situ, kata dia, kepribadiannya makin ditempa. Setiap isu yang muncul di masyarakat dilempar buat didiskusikan, dicari jalan keluarnya, dan diolah jadi aksi nyata.

“Pokoknya, siapapun itu, pejabat manapun. Kalau korupsi ya korupsi. Harus diadili,” cerita dia dengan nada tegas.

“Nggak ada yang luput dari kita. Yang salah harus diadili.”

Dari prinsip itu, akhirnya lahir AKAR. Singkat cerita, AKAR jadi wadah yang makin tajam buat ngawal isu-isu yang merugikan masyarakat, terutama di Lampung.

Timbul pertanyaan di kepala gwaa yang belum sempat gwaa lontarkan. Darimana mereka dapat duit?

Buat dia, cerita Bang Indra, roda organisasi memang perlu jalan, dan kadang ada aja rezeki datang nggak terduga. Oh iya, di luar ngurus AKAR, Bang Indra juga punya usaha jualan sayur, istilah kerennya (suplyer sayur).

“Rezeki tak terduga mah ada aja dek, yang penting kita gak boleh minta. Apalagi nyampe ngemis," pengakuan Indra.

Tapi, yaaa, namanya organisasi untuk rakyat, jalannya tidak selalu mulus. Sempat juga AKAR dibekukan tujuh tahun lamanya karena Bang Indra fokus usaha.

Sampai tahun 2024, dia tiba-tiba kembali gelisah. Dari layar gawainya, dia lihat banyak kasus korupsi yang merugikan rakyat berseliweran di berita online. Dia merasa nggak bisa tinggal diam.

“Baru enam bulan gwaa balik lagi di AKAR Dek,” katanya.

Begitu comeback, nggak tanggung-tanggung. Kasus yang ia soroti langsung berat, menyoal dugaan kongkalikong Arinal yang pada saat itu menjabat Gubernur Lampung dengan PT Sugar Group Company (SGC). 

PT SGC lewat karya "kotor" Arinal dapat izin buat panen tebu pakai metode bakar. Asapnya bikin masyarakat sekitar kena ISPA. SGC untung besar, masyarakat kena imbas.

Masalahnya nggak berhenti di situ. Dalam diskusi panjang di internal AKAR, mereka juga menemukan dugaan pengemplangan pajak oleh pihak SGC. Dari situ, Bang Indra makin semangat, langsung gercep lapor ke kejati, kejagung, sampai ngasih surat ke DPR RI.

Langkah demonstrasi juga sering dia lakukan, biar kasus ini nggak tenggelam dan terus diingat masyarakat.

“Yang kayak gini ini ibadah, Dek. Kita berjuang biar pejabat nggak semena-mena dan rakyat nggak dirugikan terus,” katanya.

"Setidaknya setelah ini Gubernur yang terpilih tidak mengkhianati rakyat dan SGC tidak berani lagi panen dengan bakar tebu."

Selain itu ada kasus lain yang mau dikawal gak bang?

Ia pun melanjutkan cerita menyoal isu terbaru yang bakal mereka kawal. Isu pungutan komite sekolah yang nggak ada pengawasannya, bikin siswa yang nggak mampu bayar jadi terpinggirkan.

“Ini masih dibedah sama tim AKAR, Dek. Tapi intinya, kita nggak pengen pendidikan jadi alat transaksional. Semua siswa harusnya punya hak yang sama. Dahh itu gwaa kasih clue dikit aja."

"Abang mau pulang dulu ya," tutupnya sembari memukul meja. Suara ketukan meja mengisyaratkan cerita telah usai.

Gwaa pulang dari kantor AKAR dengan banyak pikiran. Asumsi lama gwaa tentang LSM berantakan begitu aja.

Pepatah “tak kenal maka tak sayang” tiba-tiba terasa sangat nyata buat gwaa. Setelah kenal lebih dekat, gwaa baru sadar kalau LSM yang kerjaannya minta-minta itu cuma oknum. 

Lamat-lamat, akhirnya gwaa buka Google buat mengenal LSM. Singkatnya, mbah Google bilang LSM adalah organisasi non pemerintah yang dibentuk buat bantu masyarakat.

“Oh, ternyata LSM itu lembaga mulia, ya,” gumam gwaa yang tadinya berani berasumsi tanpa mencoba mengenal.

Sekarang, gwaa ngerti, nggak semua LSM itu sekadar “minta-minta”. Sejatinya tugas LSM mulia, yang melakukan praktik buruk itu oknum.

Seperti halnya yang baru terjadi di Kabupaten Pringsewu, mantan Kades yang melakukan pemerasan mengatasnamakan LSM. Itu disebut Oknum.  (Luki)